Berkat perawatan yang baik, tanaman itu tumbuh dengan subur. Dari awalnya yang hanya setinggi betis ayah, menjelma menjadi sebatang pohon jambu biji yang besar. Tinggi pohon itu kini bahkan melebihi ayah. Pohon itu sudah berbuah beberapa kali. Tidak hanya adi dan keluarga yang menikmati buahnya, para tetangga juga. Pohon itu juga memiliki cabang yang banyak dan daun yang rimbun. Siapapun yang berteduh di bawahnya pasti merasa nyaman.
Penjual makanan, penjaja minuman, tukang bakso, penjual Siomay, sering memanfaatkan pohon itu sebagai tempat berteduh bila terik matahari menyerang bumi.
Adi teringat pada pohon jambu bijinya saat Pak Bangkit sedang bercerita tentang bencana alam dan banjir. Sebagian murid menyimak dengan baik, sebagian lagi terkantuk-kantuk. Pelajaran Pak Hamid memang terletak di akhir waktu sekolah. Beberapa saat lagi bel pulang sekolah akan berbunyi.
"Mengapa bencana alam dan banjir makin sering terjadi Pak ?" tanya Lala.
"Karena manusia makin gencar merusak alam. Bisa beri contoh kerusakan yang dilakukan manusia ?" Pak Bangkit menunjuk Pepeng yang kepalanya beberapa kali hampir terantuk meja karena mengantuk. Pepeng bengong. Beni jahil yang duduk disampingnya segera membisikinya.
"Eh itu Pak merusak jalan-jalan Pak. Sekarang banyak jalan yang berlubang." Jawab Pepeng menirukan Beni. Anak-anak tertawa. Pak Bangkit geleng-geleng kepala, kemudian menyuruh Beni membetulkan jawaban Pepeng.
"Membuang sampah di sungai Pak."kata Beni. Pepeng melotot, ia marah pada Beni yang menjahilinya. kantuknya hilang seketika..
"Penggundulan hutan, penebangan pohon adalah contoh yang lain. Hal ini tidak boleh kita biarkan, Inilah saatnya bagi kita untuk menjadi pahlawan bagi sebastang pohon
"Pahlawan sebatang pohon ?" Adi memikirkan kata-kata Pak Bangkit. Tapi tepukan keras Doni mengejutkannya.
"Di jangan lupa. Pulang sekolah kita menjenguk Saleh."
"Iya aku tidak lupa."
Pulang sekolah, Adi dan beberapa anak lainnya pergi menjenguk Saleh. Untuk sampai di rumah Saleh, anak-anak harus melalui jalan sempit dan berliku-liku. Hanya para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang bisa melewatinya. Saleh pernah bercerita kalau rumahnya berada di pinggir sungai. Di hadapan teman-temannya Saleh selalu membanggakan sungainya itu. Dan ketika sampai di depan rumah Saleh, Adi dan teman-temannya baru tahu kalau sungai kebanggaan Saleh adalah sebuah sungai yang kotor dan keruh.
Ibu Saleh membuka pintu. Anak-anak di persilakan duduk di ruang tamu rumah yang sempit. Saleh muncul tak lama kemudian. Wajahnya pucat dan badannya lemas
"Kau sakit apa Saleh ?" tanya Rudi ketua kelas.
"Sakit perut." Jawab Saleh sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.
"Sudah minum obat belum ?" tanya Doni.
"Sudah tapi diarenya belum sembuh juga." Jawab Saleh lemas. Adi terbelalak. Ia teringat sesuatu. "Jadi kamu diare ya ? Sudah coba minum rebusa air jambu biji atau belum ?" Saleh menoleh pada ibunya. Ibu tua itu yang kemudian menjawab. "Apa benar begitu."
"Insya Allah Bu. Dulu saya terserang diare. Alhamdulillah segera sembuh setelah meminum air rebusan daun jambu biji."
"Tapi di sini sulit sekali mendapatkan daun jambu biji Nak."
"Kalau soal itu aku bisa membantu. Dihalaman rumahku ada pohon jambu biji. Insya alllah saya akan memetiknya untuk Saleh."
"Oh terima kasih Nak."
Siang ini Adi akan memetik beberapa helai daun jambu biji sesuai janjinya pada Saleh dan ibunya. Adi menuju halaman rumahnya sambil membawa kantung plastik yang disiapkan ibu.
"Pilih yang segar Di. Ambil yang banyak untuk persediaan temanmu." Pesan ibu. Ibu sangat senang melihat Adi sangat bersemangat membantu temannya. Itulah sebanya ibu tak keberatan Adi melewatkan waktu tidur siangnya.
Adi tersenyum memandang sebatang pohon jambu biji di halaman. Pohon itu meliuk-liuk ditiup angin. Daunnya melambai-lambai seolah memanggil Adi untuk mendekat. Daun -daun kering berjatuhan. Sebagian jatuh di atas sebuah batu yang teronggok tepat di bawah pohon. Di atas batu itulah Adi suka duduk di atasnya sambil menikmati rindangnya pohon jambu biji. Adi suka pula memanjat pohon itu. Di atas pohon Adi memetik buah yang matang atau bermain-dengan mobil mainannya yang ia jepitkan di antara ranting-ranting pohon.
"Hai pohon apa kabarmu. Semoga kau baik-baik saja ya."Adi berkata dengan riang. Setelah itu ia segera memanjat pohon lalu memetiki daun jambu yang segar.Adi memenuhi kantung plastiknya dengan daun-daun jambu dan dua buah jambu biji yang matang. Jambu biji itu akan ia persembahkan pada Saleh dan bunya.
Adi mengambil mobil-mobilan yang tejepit di dahan pohon. Ia bermain-main sebentar. Saat akan turun dari pohon Adi men dengar suara gaduh RRRT RRRT RRRT…
Ai melompat turun. Di bawah pohon sudah ada Pak Karim penjual es dawet yang berteduh sambil beristirahat. Pak Karim berulangkali menyeka keringatnya yang berleleran.
"Bapak numpang berteduh ya Nak. Panas sekali siang ini." Kata Pak Karim.
"Silakan Pak."jawab Adi dengan sopan. Adi kemudian bertanya tentang bunyi berisisk yang tadi didengarnya.
"Oh itu suara gergaji listrik. Beberapa orang sedang menebangi pohon di ujung jalan sana."
"Astaghfirullah. Untuk apa pohon-pohon itu ditebangi Pak ?"
"Kata orang sih, jalan ini mau diperlebar." Penjelasan Pak Karim membuat Adi cemas. Ia memandang pohon jambu bijinya sambil berharap tak kan ada hal buruk yang menimpa pohon kesayangannya itu.
Berkat pertolongan Allah, Saleh sembuh dari sakit Diare setelah minum rebusan daun jambu biji. Kabar baik itu datang bersamaan dengan datangnya sebuah kabar buruk bagi Adi. Dua hari lagi pohon jambu biji di halaman depan rumah akan di tebang !
Adi teringat pada pohon jambu bijinya saat Pak Bangkit sedang bercerita tentang bencana alam dan banjir. Sebagian murid menyimak dengan baik, sebagian lagi terkantuk-kantuk. Pelajaran Pak Hamid memang terletak di akhir waktu sekolah. Beberapa saat lagi bel pulang sekolah akan berbunyi.
"Mengapa bencana alam dan banjir makin sering terjadi Pak ?" tanya Lala.
"Karena manusia makin gencar merusak alam. Bisa beri contoh kerusakan yang dilakukan manusia ?" Pak Bangkit menunjuk Pepeng yang kepalanya beberapa kali hampir terantuk meja karena mengantuk. Pepeng bengong. Beni jahil yang duduk disampingnya segera membisikinya.
"Eh itu Pak merusak jalan-jalan Pak. Sekarang banyak jalan yang berlubang." Jawab Pepeng menirukan Beni. Anak-anak tertawa. Pak Bangkit geleng-geleng kepala, kemudian menyuruh Beni membetulkan jawaban Pepeng.
"Membuang sampah di sungai Pak."kata Beni. Pepeng melotot, ia marah pada Beni yang menjahilinya. kantuknya hilang seketika..
"Penggundulan hutan, penebangan pohon adalah contoh yang lain. Hal ini tidak boleh kita biarkan, Inilah saatnya bagi kita untuk menjadi pahlawan bagi sebastang pohon
"Pahlawan sebatang pohon ?" Adi memikirkan kata-kata Pak Bangkit. Tapi tepukan keras Doni mengejutkannya.
"Di jangan lupa. Pulang sekolah kita menjenguk Saleh."
"Iya aku tidak lupa."
Pulang sekolah, Adi dan beberapa anak lainnya pergi menjenguk Saleh. Untuk sampai di rumah Saleh, anak-anak harus melalui jalan sempit dan berliku-liku. Hanya para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang bisa melewatinya. Saleh pernah bercerita kalau rumahnya berada di pinggir sungai. Di hadapan teman-temannya Saleh selalu membanggakan sungainya itu. Dan ketika sampai di depan rumah Saleh, Adi dan teman-temannya baru tahu kalau sungai kebanggaan Saleh adalah sebuah sungai yang kotor dan keruh.
Ibu Saleh membuka pintu. Anak-anak di persilakan duduk di ruang tamu rumah yang sempit. Saleh muncul tak lama kemudian. Wajahnya pucat dan badannya lemas
"Kau sakit apa Saleh ?" tanya Rudi ketua kelas.
"Sakit perut." Jawab Saleh sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.
"Sudah minum obat belum ?" tanya Doni.
"Sudah tapi diarenya belum sembuh juga." Jawab Saleh lemas. Adi terbelalak. Ia teringat sesuatu. "Jadi kamu diare ya ? Sudah coba minum rebusa air jambu biji atau belum ?" Saleh menoleh pada ibunya. Ibu tua itu yang kemudian menjawab. "Apa benar begitu."
"Insya Allah Bu. Dulu saya terserang diare. Alhamdulillah segera sembuh setelah meminum air rebusan daun jambu biji."
"Tapi di sini sulit sekali mendapatkan daun jambu biji Nak."
"Kalau soal itu aku bisa membantu. Dihalaman rumahku ada pohon jambu biji. Insya alllah saya akan memetiknya untuk Saleh."
"Oh terima kasih Nak."
Siang ini Adi akan memetik beberapa helai daun jambu biji sesuai janjinya pada Saleh dan ibunya. Adi menuju halaman rumahnya sambil membawa kantung plastik yang disiapkan ibu.
"Pilih yang segar Di. Ambil yang banyak untuk persediaan temanmu." Pesan ibu. Ibu sangat senang melihat Adi sangat bersemangat membantu temannya. Itulah sebanya ibu tak keberatan Adi melewatkan waktu tidur siangnya.
Adi tersenyum memandang sebatang pohon jambu biji di halaman. Pohon itu meliuk-liuk ditiup angin. Daunnya melambai-lambai seolah memanggil Adi untuk mendekat. Daun -daun kering berjatuhan. Sebagian jatuh di atas sebuah batu yang teronggok tepat di bawah pohon. Di atas batu itulah Adi suka duduk di atasnya sambil menikmati rindangnya pohon jambu biji. Adi suka pula memanjat pohon itu. Di atas pohon Adi memetik buah yang matang atau bermain-dengan mobil mainannya yang ia jepitkan di antara ranting-ranting pohon.
"Hai pohon apa kabarmu. Semoga kau baik-baik saja ya."Adi berkata dengan riang. Setelah itu ia segera memanjat pohon lalu memetiki daun jambu yang segar.Adi memenuhi kantung plastiknya dengan daun-daun jambu dan dua buah jambu biji yang matang. Jambu biji itu akan ia persembahkan pada Saleh dan bunya.
Adi mengambil mobil-mobilan yang tejepit di dahan pohon. Ia bermain-main sebentar. Saat akan turun dari pohon Adi men dengar suara gaduh RRRT RRRT RRRT…
Ai melompat turun. Di bawah pohon sudah ada Pak Karim penjual es dawet yang berteduh sambil beristirahat. Pak Karim berulangkali menyeka keringatnya yang berleleran.
"Bapak numpang berteduh ya Nak. Panas sekali siang ini." Kata Pak Karim.
"Silakan Pak."jawab Adi dengan sopan. Adi kemudian bertanya tentang bunyi berisisk yang tadi didengarnya.
"Oh itu suara gergaji listrik. Beberapa orang sedang menebangi pohon di ujung jalan sana."
"Astaghfirullah. Untuk apa pohon-pohon itu ditebangi Pak ?"
"Kata orang sih, jalan ini mau diperlebar." Penjelasan Pak Karim membuat Adi cemas. Ia memandang pohon jambu bijinya sambil berharap tak kan ada hal buruk yang menimpa pohon kesayangannya itu.
Berkat pertolongan Allah, Saleh sembuh dari sakit Diare setelah minum rebusan daun jambu biji. Kabar baik itu datang bersamaan dengan datangnya sebuah kabar buruk bagi Adi. Dua hari lagi pohon jambu biji di halaman depan rumah akan di tebang !
No comments:
Post a Comment